Pada suatu malam di musim hujan yang sangat dingin, setelah melakukan berbagai kesibukan dunia, aku tidur dengan pulas karena merasa capai dan letih.
Aku tergeletak diatas kasur. Aku tenggelam dalam tidur yang sangat pulas sekali. Sebelum shubuh tiba aku terbangun karena sangat haus sekali. Lalu aku melangkah untuk meminum seteguk air. Tiba-tiba terdengar pekikan suara yang keluar dari bumi. Aku mencari-cari suara tersebut di sekeliling ruangan. Tapi, suara itu keburu menghilang. Kemudian, aku melanjutkan langkah untuk mengambil seteguk air minum. Setelah minum, aku kembali lagi kekasur. Pekikan suara tadi mengiang kembali, kali ini pekikan tersebut sangat keras sekali, seolah-olah suara tangisan. Aku meraba-raba bumi dengan kedua tanganku. Sampai akhirnya aku mendapatkan “ Sajadah ” ku, lalu suara itu berhenti.
Saya bertanya keheranan, ” Apakah engkau yang berteriak wahai sajadahku ? Sajadah menjawab, ” Benar” Aku bertanya, ” Kenapa…?! Sajadah menjawab, ” Rasa haus telah menyebabkanmu terbangun, dan engkau telah minum air dengan puas, sedangkan aku sangat membutuhkan air dan tidak seorangpun yang memberiku air ?! “
Aku bertanya, ” Apakah engkau menginginkan agar aku membawakan untukmu segelas air ?” Sajadah menjawab, ” Tidak, bukan air ini yang aku inginkan, akan tetapi air mata hamba-hamba Allah yang bertobat yang aku maksudkan.” Aku balik bertanya, ” lalu darimana aku bisa mendatangkan air yang kau maksud itu ?” Sajadah menjawab, ” Inilah yang menyebabkan aku menangis. Bangunlah wahai hamba Allah, Shalatlah dua rakaat dikegelapan malam sehingga menjadi penerangmu dalam kegelapan kubur. Sungguh pahala shalat yang sangat besar sekali. Ayo, bergegaslah, karena waktu tinggal sedikit, sebentar lagi adzan shubuh akan di kumandangkan.”
Aku berkata, ” Biarkan aku sendirian wahai sajadahku,” Sajadah berkata, ” Wahai hamba Allah, bangunlah untuk shalat shubuh. Shalat tersebut adalah kehidupan bagi hati dan jiwa.”
Waktu adzan telah tiba, sang muadzin mengumandangkan: “Ash-shalatu khairun minan naum, Ash-shalatu khairun minan naum= shalat adalah lebih baik daripada tidur. Sajadah berkata, ” Engkau telah memenuhi panggilan dunia setiap hari, siang dan malam. Namun, tidak memenuhi panggilan Allah yang Maha mulia lagi Maha kuasa ?!!
Dengan perasaan kesal, aku berkata, ” Biarkanlah aku tidur, wahai sajadahku. Engkau telah melihat aku setiap hari , aku selalu pulang kerumah dalam keadaan penat dan lelah. Kemudian, orang tersebut mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Kini dia merasakan sebuah kehangatan. Dia pun pasrah kepada penguasa tidur.
Sajadah berkata, Wahai hamba Allah , apakah engkau memenuhi kebutuhan duniamu lebih banyak dari daripada kebutuhan agamamu ?” Aku berkata dengan nada kesal, ” Diamlah wahai sajadah ! Aku berharap agar engkau tidak bersuara lagi. Aku benar-benar letih dan capai, aku ingin tidur pulas.”
Sajadah diam sesaat setelah mendengar ancaman hamba Allah, lalu berkata dengan nada suara sedih. Oooh….Wahai orang-orang yang tidak bangun waktu shubuh. Tidakkah anda mendengar sabda Nabi Muhammad SAW. ” Api neraka tidak akan menjilat seseorang yang shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, yakni shalat shubuh dan ashar.” ( HR. Muslim)
Di lain kesempatan Rasulullah bersabda ” Tiada shalat yang paling berat bagi orang munafik, selain dari shalat Shubuh dan Isya. Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada dalam keduanya, justru mereka akan mendatangi keduanya walaupun dengan merangkak. (HR. Al-Bukhari)
Hamba Allah terperanjat dari kelengahannya, lalu berkata : ” Benar, shalat shubuh sangat penting sekali.” Sjadah berkata, ” Bangunlah, wahai hamba Allah, bangunlah untuk melaksanakan shalat.” Hamba Allah menjawab, : Insya Allah, mulai besok aku akan memulainya. Sekarang, tinggalkanlah diriku, karena aku sedang letih sekali.” Lalu berkata sajadah dengan nada menyesal, ” Barangsiapa yang tidak mengetahui pahal, segala amal perbuatan terasa berat baginya dalam segala hal.
Sajadah menambahkan perkataannya, ” Wahai hamba Allah, besok di alam kubur engkau akan tidur sebanyak-banyaknya, dan engkau akan mengingat perkataan dan nasihatku.”
Kemudian, sajadah meninggalkannya, hamba Allah pun tertidur kembali. Namun, apa yang terjadi ? Dia tidur untuk selama-lamanya, dan pada saat itu nyawanya telah di cabut oleh sang Pencipta.
Sajadah melantunkan syair ketika mengetahui kematian hamba Allah :
Wahai orang yang berjanji untuk bertobat di hari esok
Apakah engkau yakin akan samapi hari esok
Seseorang menggantungkan hidupnya kepada angan-angan…..
Padahal, kematian manusia telah ditentukan…
Ketahuilah, bahwa hari-hari usiamu hanyalah bilangan..
Boleh jadi harimu ini merupakn akhir sebuah bilangan………[]
(Dr. ad-Dahisyi , Keajaiban Amal Shaleh)
Recent Comments